Bulan Sabit di Wajah Risau Hanasamali Aku adalah sebuah kerisauan yang menuruni tiap lembah dan perbukitan pertanyaan. Malah aku juga adalah sekujur rasa rindu yang telah membeku, gelap diselaputi masa lalu. Biarkan mentari dari tangan tangan doa ku menyambut lahir mu kembali, dalam hidup dan cara yang baru. Setelah parah kau diremas belati duga, mungkin takdirmu dan mungkin takdirku kerna itu aku mengenalmu. Semalam pagi, rindu ku terbangun setelah lama tidurnya dalam rangkulan doa doa. Khabarmu menyapa walau dalam bersederhana. Bulan sabit menghiasi wajah kerisauan ku. Dan aku bersyukur.
Aku menulis bukan kerana aku seorang penulis, bukan juga kerna aku suka menulis, tetapi aku bisa merasakan kau selalu dekat dengan pena ku,dan engkau adalah butiran aksara yang ku gubah menjadi bait bait puisi