Skip to main content

Posts

Selamat Malam Kennagan. Selamat malam kau yang bernama kenangan. Puaskah kau melihat aku yang terdampar luka memeluk kepingan semalam. Berbantalkan harapan yang tak pernah empuk dikepala. Dan malam padaku bukanlah tempat untukku petik bunga-bunga tidur, malam adalah sejadah buatku membentangkan doa untukmu yang hilang. Selamat malam duhai kau yang tak pernah padam diingatan, selalu terang bagai dian. Tetap bersemadi di jantung puisi. Hingga waktupun takkan pernah bisa membawamu pergi dariku. Walau yang bersamaku kini cuma sekeping gambarmu dan seikat kenangan. Selamat malam duhai kau yang ku cinta. Malam ini aku berselimut derita. Menyulam ingatan pada bintang dan purnama. Melukis senyummu yang lamatlamat menghilang dibalik gelita. Andai esok, bukanlah cerita untukku lagi, izinkan aku membawa pergi segala tentangmu. Segala tentangmu. Hanasamali Shah Alam. 20201219
  _________________ Katamu dunia adalah papan pemotong, pisaunya adalah waktu. sedang kita adalah hal-hal yang siap untuk dipotong oleh waktu. Lalu aku bertanya, jika pisau adalah waktu..siapa pula yang memegang pisau itu? Lantas kau bilang, Takdir. Jadi, kita ini cumalah hal-hal yang akan melalui waktu. Harusnya siap dalam menghadapi waktu. Kita tidak akan bisa mengelakkan waktu. Kita harus siap terluka kerana waktu. Hanasamali Shah Alam, 20201219
Unggun Kenangan. ----------------- Malam ini, aksaru terhempas ke jurang rindu yang teramat dalam.  Sedang hujan tidak bisa memadamkan unggun kenangan yang membuat aku menjadi arang. Tuan, rindumu api yang membakar tubuh renta ini. Hanasamali Shah Alam, 202012220
Bulan Sabit di Wajah Risau Hanasamali Aku adalah sebuah kerisauan yang menuruni tiap lembah dan perbukitan pertanyaan. Malah aku juga adalah sekujur rasa rindu yang telah membeku, gelap diselaputi masa lalu. Biarkan mentari dari tangan tangan doa ku menyambut lahir mu kembali, dalam hidup dan cara yang baru. Setelah parah kau diremas belati duga, mungkin takdirmu dan mungkin takdirku kerna itu aku mengenalmu. Semalam pagi, rindu ku terbangun setelah lama tidurnya dalam rangkulan doa doa. Khabarmu menyapa walau dalam bersederhana. Bulan sabit menghiasi wajah kerisauan ku. Dan aku bersyukur.
Bintang Unggu 20180326 Hanasamali Andai serpih hatimu masih lagi belum berhenti mengalirkan harapan, pulanglah... dimana tempat kita pernah berdiri, mengait perca perca cerita, mengharung lekuk duka dan air mata, menginjak temaram tempat kita melepaskan lelah...aku menunggu... Bagaimana jika esok aku tak sampai padamu? Lirih pertanyaan itu meracuniku. Katakanlah terang itu takkan bisa membawa aku ketempat mu, ia takkan pernah bisa selagi engkau tidak membukakan jalannya. Diam mu terlalu menghukum ku, marah mu terlalu berlebih. Langitku kelam, walau seribu purnama tetap tidak dapat menjadi diannya. Kau hilang, hilang dalam amarah. Kau diam, berlari menjauh tak ingin menentang. Apa kau fikir dengan berlari kau dapat meninggalkan memori? Tentang aku, dia dan kita? Sinarkan megamu kembali. Tetaplah dengan rasa kita, walau salah terbitnya. Satu masa akan kita lihat, ianya terbit ditempatnya Hukuman mu terlalu menjerat, hingga nafas ku sesak dan hampir sakarat. Bintang unggu, ku lihat kau te...
AKU INGIN KEMBALI H. Estonia 20171103 Aku ingin kembali.... Sebuah teriakan dari sudut hati yang merapuh, dalam diam derap itu mengingatkan ku, tentang kelmarin yang sayu... Kau bersahaja mengulam rindu yang tiada berjeda, mencanting tiap warna dari gumpalan merah, jantungku... Mungkin temaram yang datang singgah akan membawa mu pergi, jauh dari aku dan harus satu hari lagi, untuk aku menanti. Untuk menemui mu lagi, walau itu sekadar harapan yang terpinggir. Katakan..... Bisakah aku kembali? Pada waktu di mana aku mengenali kamu..???
Takut H. Estonia 20171003 Diruang kosong, diberanda kenangan. Mengeja tiap satu yang telah pergi, cuba menggapai namun bak bayang yang sekadar untuk dipandang. Kau adalah sebuah ketakutan ku, kerna aku takut kehilanganmu. Saat pagi yang membentang tanpa ada lagi sabda darimu, manakala senja yang melamar tanpa ada lagi ucapan malam darimu. Diluar hujan masih lagi menagih pedih, dan lorong lorong telah basah dengan air mata. Ku lamar tiap rintiknya dengan sebuah kenyataan, bahawa pergimu adalah nyata, dan kehilanganmu adalah sebuah ketakutan ku... Kerna aku...